Ask doctors #1

Leonardo Lubis, dr.

Leo

Magister kesehatan, ahli faal olahraga.

1999 masuk FK

Lulus Februari 2003

Jd dokter Februari 2006

Sekarang dokter,praktek di klinik, staf pengajar faal FK UNPAD

Lahir 26 Juli 1980

Batak

Jl. Ciumbuleuit no 22 RT 3 RW 10 kel. Hegar manah kec. Cidadap. Bandung

Main Bola, nonton film, dan jalan-jalan

“See One, Do One, Teach One”

Pesan u/ 2004: “If you want to be a doctor, be a good one”

AKADEMIK

Belajar di kampus dan koAss:

· Di kampus: belajarnya literature oriented. Pusatnya ke buku. Lecture!!

· Saat Ko Ass: belajar langsung ke pasien. Apa yang kita lihat dan dengar pada saat kuliah, kita lihat di pasien. Saat Ko Ass bukan lecture, tapi semacam diskusi. Biasanya sama konsulen dan residen senior.

- Jadwalnya dari jam 7 pagi sampai jam 2. Tapi pada kenyataannya seringkali kita juga pulangnya sore juga, disambung kalo misalnya ada yang jaga.

- Juga ada bedside teaching, dokternya mungkin baru bisanya setelah jam 2, seringkali kejadiannya seperti itu. Kalo sistem jaga, kita yg membuat jadwal jaga, kelompok kita yang bikin. Jaga itu tidak satu angkatan saja, bisa jadi ada angkatan yang berbeda, atau yang masuknya beda gelombang. Jaraknya itu 2 minggu, grup A masuk 2 minggu, grup B 2 minggu yang selanjutnya. Jadi ada istilak KoAss senior, untuk Ko Ass yang lebih dulu masuk, kesannya lebih banyak tau, padahal sama aja.

Sistem:

A1 (tahun peratama)ada 7 bagian dan A2 (tahun ke 2) ada 7 bagian.

Ø A1: Radiologi/Kedokteran Nuklir, Neurologi, Psikiatri, Kulit dan Kelamin, Interne, Pediatri, Gigi.

Ø A2: Mata, THT, Bedah, Obgyne, Anasthesi, PH, Forensik.(satu lagi beliau lupa) L

Assessment:

Ada final test seperti…

-Bed side teaching (kyk OSCE), kita dinilai perceptor. Kita ditanya teorinya apa, kenapa begini, nanti ditanya satu-satu, jawaban kita akan dinilai. Kemudian mempraktekkan keterampilan klinis langsung ke pasiennya.

-Ada juga diskusi kecil seperti tutorial, disana juga akan dinilai, cara penyampaian dan keaktifan.

-SOCA (ujian lisan).. Yang paling besar pengaruhnya itu adalah ujian akhir, ujian lisan. Mulai dari menerima pasien, pasien baru datang, kita lakukan anamnesa sendiri lalu kita lakukan pemeriksaan penunjang juga sendiri dan menentukan diagnosa dan terapinya. Dari awal sampai manajemen, apakah dirawat atau tidak, KoAss semua yang mengerjakan.

Must-have Items:

* Buku : Untuk semua bagian kita harus punya semacam primbonnya. Kita harus cari tahu sendiri. Misalnya kita di Interne, acuannya Harrison. Carilah Harrison yang terbaru. Kecuali nanti ada di sub-sub bagian tertentu misalnya di Hemato, Nephro, ada buku-buku khusus ya kita cari lagi. Yang jelas untuk keseluruhan, Ko Ass harus punya buku pegangannya untuk tiap bagian. Kapita Selekta itu boleh.

* Alat-alat: Selain buku, tentunya alat-alat juga pasti dibutuhkan, stetoskop. Sebaiknya dari awal pakai yang paling bagus kualitasnya. Kenapa? Karena nanti kita harus membiasakan diri dengan alat tersebut, jadi gak ganti-ganti dan sangat disarankan untuk semua Ko Ass untuk punya alat masing-masing, selengkap mungkin dan yang paling tinggi kualitasnya. Lalu sphygmomanometer, minor kit, hammer, pen light, ophtalmoscope, otoscope, tongue spatel.

* Techno gadgets?: Gadget ?kyk Laptop or PDA?? Menurut dr Leo mah..teknologi kan sifatnya netral, zaman dulu gak ada laptop dokter-dokter juga bisa jadi dokter, itu penunjang tidak wajib. J

Yang harus dipersiapkan:

Ø Personelnya: Sekarang berubah suasana belajarnya, kalo dulu di kampus, kita belajarnya ke buku, kalo sudah di Ko Ass kita akan belajar ke pasien. Jadi yang ngajarin kalian nanti adalah pasien. Jadi yang harus dipersiapkan adalah bagaimana cara hubungan interpersonal, dimana kita bersikap sebagai dokter tapi memposisikan diri sebagai pasien. Kita harus belajar simpati dan empati.

Ø Ilmunya: Alat-alat, basic sciencenya, Bahasa Sunda. Karena kita hanya boleh menangani pasien kelas 3, yang notabene mereka dari gunung, dari kampung, jadi mereka gak bisa bahasa Indonesia. Mau g mau harus belajar bahasa Sunda, gitu,,

Persaingananatar Ko-Ass:

Terutama pada saat jaga dan orang khan beda-beda niatnya, ada yang memanfaatkan jaga jadi senang jaga, ada juga yang malas. Nah yang jadi masalah kalo semua orang lagi males, atau semuanya lagi rajin. Misalkan untuk dapat pengalaman hecting, pasien terbatas, semuanya jadi bersaing. Kadang-kadang ada yg serakah. Kalo dulu itu kayanya kesannya gak ada yang mesti diperebutin, suasana persaingan gak begitu kerasa.

Hub ke konsulen, perseptor:

Tetap berpegang pada apa yang kita baca, bicara harus berdasarkan bukti, sampaikanlah sesuatu itu berdasarkan bukti atau referensi. Bersikap sebagai rekan sejawat tapi posisikan lebih rendah.

Hub dengan FK lain:

Kontak dengan mereka jarang, mungkin dalam satu bagian bareng tapi kerjasama atau sebaganinya itu gak pernah. Jadi masing-masing, mereka juga punya kurikulum masing-masing.

Biaya:

SPP itu satu semester 800rb(jamannya beliau ini mah!!), udah paling sisanya itu urusan sendiri-sendiri, biaya hidup, fotokopi dsb. Biaya hidup di zaman saya, satu juta kali ya sebulan. Pas Ko Ass kurang lebih sama, SPP di kampus sama dengan SPP disana. Biaya hidup juga sama aja di jatinangor dan di bandung. (Itu beberapa tahun yang lalu lho!! Jadi.. Preapare for Inflation guys!!)

Yang paling berkesan:

Paling melelahkan: Kalo yang terberat (cape) jelas itu di bagian Bedah dan Interne. Bagian bedah itu lebih berat karena lebih banyak tindakan kalo jaga. Kalo di interne banyak kasus tapi tindakannya ga sebanyak di bedah.

- Padat jadwalnya, satu minggu pindah-satu minggu pindah.

- Ada on call

- Sub-subnya banyak.

Paling ringan a.k.a nyantee: Bagian Radiologi cuma interpretasi dan mengetik.

Paling ”Riweuh”: Bagian anak, karena..

-Tempatnya itu sangat tidak higienis, sumpek, sesek.

-Dan bagi beliau, hubungan antara residen dan Ko Ass agak kurang baik. Mungkin karena residennya juga sudah banyak distressnya jadi sedikit perhatian ke Ko Ass.

-Anak juga terkenal pengujinya, konsulennya, terkenal banyak yang ditakutin.

-Dan karena belaui bukan tipikal kids lover, jadi agak susah. Selain itu, satu status tapi pasiennya banyak, anaknya, orang tuanya, dsb. Apalagi neonatus, banyak yang jagain. Tapi tingkat kempuan untuk mengahadapi pasien lebih terasah di bagian-bagian ini.

Yang disesali:

Menurut dr.Leo, yang beliau sesalkan adalah

-pengalaman kerja. Yang kita kejar adalah pengalaman kerja. Misalkan lumbar punctur, hanya liaaaat terus tapi gak sempet ngerjain. Terus ETT, liat aja, ke manekin lancar tapi tindakan ke pasien gak pernah. Karena case sedikit, kita harus giliran, belum lagi residen juga ada, mereka harus didahulukan. Jadi banyak sekali lah pengalaman yang kita kurang kebagian. Kalo operasi-operasi banyak yang ikut, jadi asisten bersama konsulen-konsulen. Yang menariknya waktu itu operasi pemasangan pin pada fraktur, lalu pada saat cesarean. Yang paling berkesan itu di Obgyne, banyak tindakan-tindakan yang bisa dilakukan sendiri, yang paling seru itu Manual Digiti, membersihkan plasenta di dalam uterus.

-Keaktifan. Beliau dulu kurang aktif dalam diskusi, lebih banyak diamnya. Kadang tidak selalu karena dr.Leo tidak tahu, tapi kadang emang karena gak sempet belajar.

Pandangan terhadap mahasiswa PBL:

Kalo dari kurikulum, seharusnya qta (2004) sudah lebih siap, karena belajar berdasar problem. Pada saat S.Ked dapetnya berupa kertas, pada saat Ko Ass dapet pasiennya. Semua sudah bagus. Karena di Ko ass kita harus punya dasar basic science, jadi physiologi itu penting. Pohon dari semua ilmu kedokteran itu kan physiologi. Jadi perlu me review basic sciencenya, khususnya anatomi dan physiology. Dari case kita sudah punya bayangan, dibantu lagi dengan skills lab, harus saling berlatih. Dibantu lagi dengan BHP, itu juga jadi pelengkap.

NON AKADEMIK

Main:

Main bisa-bisa aja, cuma kalo dari sisi pemanfaatan waktu kayaknya gak bisa. Selain itu juga kan harus jaga kondisi badan, jadi kalo ada waktu ya dipake untuk istirahat. Kalo jaga kan start jam 2 sampai jam 6.45, setelah itu, jam 7 nya udah harus absen untuk kuliah lagi sampai jam 4 atau 5 sore. Selain itu juga banyak beban, tugas, atau persiapan untuk besoknya. Paling refreshing bisa saat spacing satu minggu.

Infrastruktur:

Makan: Kalo makan paling di sekitar RS aja. Kalo di seruni kayaknya mahal.

Parkir: Biasanya diluar (jalan sekitar RSHS). Idealnya sih kostannya kalo bisa dideket RSHS jadi bisa jalan kaki.

Rental dan Internet: Oh itu banyak diluar, selain itu ada juga fasilitas yang disedian fakultas, itu di perpustakaan.

Pergaulan:Yah paling ada juga KoAss cewe nikah sama Residen. Kasus pasien dokter: karena ko-Ass masih ”ijo” kadang dimanfaatkann oleh pasien, bahkan ada yang dihipnotis, jadi kita jangan terlalu dekat sama pasien. Kita ingin menunjukkan moral yang baik tapi bisa jadi malah.

One response

22 09 2008
anggie

@ NON AKADEMIK, Pergaulan, Hmm…. Memangnya ko-ass bisa dimanfaatin untuk apa aja…? =))

Leave a comment