2004 oh 2004

2004

September 2004. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. 300 orang berkumpul disini. Berkumpul sebagai satu angkatan dengan cita-cita yang sama, yaitu menjadi seorang dokter. Tentunya perasaan bangga muncul karena diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia.

Dengan menggunakan kurikulum baru, yaitu Problem Based Learning (PBL), diharapkan 300 orang yang tergabung dalam angkatan 2004 menjadi angkatan pioneer yang menjadi dokter dengan kompetensi di atas rata-rata. Dalam kurikulum ini semua diharapkan dapat menggali ilmu secara mandiri dan terdidik untuk bersikap kritis. Hasil yang diharapkan adalah seorang “Five Star Doctor” yang menjadi ujung tombak dunia kesehatan di Indonesia nantinya.

Datang tanpa tahu apa yang harus dilakukan menjadi awal yang kurang baik. Senior hampir tidak ada yang tahu mengenai kurikulum ini. Sedikit sekali senior dari Kelas Paralel Berbahasa Inggris (KPBI) yang bersifat terbuka dan berbagi pengalaman. Sebagian besar sibuk dengan dunianya msing-masing. Hal ini menuntut angkatan 2004 untuk bersikap mandiri dan berusaha beradaptasi dengan pengetahuan seadanya.

Satu tahun berlalu. 20 orang terjegal karena gagal untuk beradaptasi. Namun mereka bukan orang gagal. Dan sisanya yang lolos juga belum dapat dikatakan sebagai orang yang mampu bertahan. Perjalanan masih panjang. Dalam perjalanan selama satu tahun pun malah terlihat ketidaksiapan fakultas terhadap program baru ini. Sebagian besar pengajar belum memiliki kompetensi yang cukup untuk menjadi pengajar dengan metode PBL ini. Hanya sedikit yang expert pada program ini. Hal ini membuat mahasiswa memandang program ini sebagai program yang masih blurred, belum jelas kepastiannya. Efeknya semua menjalankan program ini sambil belajar.

Dalam perjalanan tahun ke-2, angkatan 2004 diberikan kebijakan yang pada awalnya dianggap menguntungkan. Ujian Student Objective Oral Case Analysis (SOOCA) dan OSCE yang dilakukan akhir tahun ternyata malah menjadi beban yang cukup besar untuk semua. Beban ujian yang besar pada akhir tahun memunculkan masalah secara psikologis. Selain itu, SOOCA yang seharusnya bersifat objektif pada kenyataannya malah bersifat subjektif. Materi ujian yang timpang antara satu mahasiswa dengan mehasiswa yang lain juga menjadi masalah dalam proses ujian SOOCA ini. Muncul ketidakadilan yang memang pada dasarnya tidak diharapkan. Hal ini memunculkan protes yang dijawab oleh pihak fakultas dengan jawaban yang sangat tidak memuaskan.

Sekarang di tahun ke-4, masalah yang muncul ternyata semakin banyak saja dan seolah-olah tidak ada habisnya. Beban kerja mahasiswa terlamapau bertumpuk. Hal ini mungkin dikarenakan kurang jelinya pihak fakultas terhadapa jadwalnya sendiri. Kuliah Kerja Nyata yang digabungkan dengan kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan membuat mahasiswa super sibuk. Selain itu skripsi yang polanya menjadi sangat “aneh” dan mulai dijalankan ketika dua program ini masih berlangsung semakain membuat mahasiswa pusing. Khusus untuk skripsi, banyak sekali kejanggalan yang terjadi. Diantaranya adalah mahasiswa diharuskan memberikan judul dalam waktu lima hari, dosen pembimbing yang kurang sesuai dengan judul skripsi, dan kejadian judul kembar. Selain itu ada kejadian penolakan judul dengan alasan tidak cocok untuk dijadikan penelitian, namun belakangan judul itu tetap digunakan oleh orang yang kembali mengajukan judul tersebut.

Ada apa sebenarnya dengan fakultas? Apa yang diharapkan oleh petinggi-petinggi yang duduk di gedung A-1? Angkatan 2004 tidak ada yang bisa menebak bagaimana akhirnya nanti. Kami hanya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena ketidakjelasan program ini. Semoga terjadi perbaikan yang mendalam untuk penyelesaian masalah ini.

wrote by Fariz Wadji

Leave a comment