
Assalamualaikum Wr Wb
Teman2…mungkin kalau kita bicara tentang cinta, tidak akan pernah habis dan tidak pernah akan serupa definisinya. yang
saya tahu cinta adalah perasaan emosi yang paling tinggi!melebihi kebahagiaan dan kesukacitaan. Cinta bukan hanya sekedar
naluri, tapi cinta adalah fitrah yang Allah berikan pada manusia.
Ketika kita sedang jatuh cinta, memang benar “berjuta rasanya” senang-harap-haru-kecewa-sedih-pengorbanan-bahkan mungkin
patah hati ketika kita tahu bahwa kita mencintai seseorang yang salah
kita semua sepakat bahwa cinta itu adalah hak setiap insan termasuk kita seorang calon dokter maupun dokter…
Tapi bagaimana ketika kita berada dalam dilema tersebut? di mana realita dan angan2 berbenturan menjadi suatu konflik yang
menuntut perhatiannya.
Kita sudah berkomitmen untuk menjadi dokter, dan itu tidak main2! perjuangan kita selama 6 tahun harus dibayar dengan pengorbanan
kita akan pengabdian kepada pasien dan masyarakat. dan Cinta disini sangat membutuhkan pengorbanan…
Teman2, banyak sekali kejadian akhwat-ikhwan yang terlibat asmara tetapi buntu ditengah jalan disaat harus memilih :
Memiliki atau Memutuskan !
rata2 masalahnya itu adalah :
1. Bentrok antara cita2 dan kebutuhan fitrah manusia usia 20 tahunan (dewasa)
2. Bentrok antara prinsip hidup dengan keinginan hawa nafsu untuk bersama dengan si Dia
3. Bentrok antara ingin menikah atau keadaan realistis seorang mahasiswa-koass yang belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri
4. Bentrok antara orangtua-sang bidadari-maupun dengan dirinya sendiri
5. Jatuh cinta yang belum saatnya
Lantas harus bagaimana? siapa yang akan dikorbankan?
apakah cita2 mulia menjadi dokter? atau orang tua yang ingin anaknya sukses setelah 6 tahun mengenyam penddikan???
di sini orang tua pasti berpikir, lha ini anakku kok! masih jadi hakku! dibiayaain sekolah dokter sama aku! gimana nanti mau
boyong istri? mampu aja enggak!..
Mungkin tidak semua orang tua berpikir begitu…Tapi itulah tantangannya teman2!
Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita yang egois : INGIN NIKAH SEKARANG! dan mengorbankan perasaan orang tua kita
Kita tidak bisa memaksakan diri untuk berhenti dari kuliah dan mengejar Sang Bidadari kita atau Ksatria kita untuk hidup
berdua bahagia selamanya
dan menurut aku, kita tetap tidak dibenarkan untuk mempertuhankan hawa nafsu untuk berdua-duaan, berpegangan tangan, bahkan bercinta (nauzubillah)
DEMI memenuhi nafsu syaitan kita..apalagi sebelumnya kita terwarnai oleh Islam…
Teman2 saya tidak lebih baik dari yang teman2 kira.
saya hanya manusia biasa juga yagn punya haawa nafsu dan fitrah
Tapi disini kita harus bersikap dewasa :: Berpikir menang :: dan Bijaksana dalam mengambil keputusan
mungkin memang kita harus berkorban, tetapi demi kebenaran!
Islam telah mengajarkan cara untuk menahan hawa nafsu : yaitu berpuasa. kenapa tidak dicoba itu? Mengaji, menjadi guru mentoring, atau
belajar, menulis buku, diari, ataupun surat cinta…itu tidak apa apa toh?
yang penting tidak berdua2an, karena yang ketiga adalah syaitan…
Teman2 menikah adalah jalan yang terbaik dari yang paling baik, tetapi menikah juga banyak hal yg harus dipertimbangkan!
Ingat!
ketika kita akad nikah, 7 ARASY BERGETAR karena BERATNYA AMANAH AKAD NIKAH! dimana TANGGUNG JAWAB ORANGTUA PINDAH KE SANG SUAMI!
bayangkan teman2…pemilihan ketua BEM atau senat aja segitu rumitnya, bagaimana dengan memilih jodoh?
Kita harus selektif! sangat selektif, tapi yang paling penting dariitu semua adalah : AGAMA. pilihlah yang paling mengerti tentang agama
sama seperti yang Imam Husein katakan : Pilihlah lelaki yang bertaqwa, karena lelaki bertaqwa itu tidak akan mengecewakan istrinya.
Teman2…Tsiqoh lah (percayalah) pada Allah. Yakinlah Allah akan melindungi teman2…yang kita bisa lakukan adalah perbaiki diri.
PERCUMA kita korek2 informasi dari tukang ramal : SIAPA JODOH KITA. karena itu adalah rahasia Allah!
Tapi yakinlah Allah akan memilihkan jodoh yg terbaik untuk kita…
DOKTER BERHAK UNTUK MEMILIKI KEHIDUPAN PRIBADI (anak banyak-suami soleh-dll) TETAPI DOKTER PUNYA TANGGUNG JAWAB UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN
UMAT!
LAA TAHZAN, Innallahumaanna…
Wassalamualaikum Wr Wb
Agustina KAdaristiana

collegue's comments